MENYIKAPI ‘KELOMPOK’ & ‘GEROMBOLAN’ atau ORMAS ISLAM
Ada se-Kelompok Orang yang dakwahnya suka menuduh se-Gerombolan Orang adalah ‘wahabi’. Sejak dulu penyakit tersebut tidak pernah sembuh dari dirinya. Pelbagai tokoh ulama terdahulu dan terkini tidak terlepas kejahatan tuduhannya. Dalam maupun luar negeri, yang masih hidup atau yang sudah wafat, semua dijadikan mangsa. Wahabi, wahabi, wahabi! Pendapat yang berbeda dengan pendapatnya maka itu ‘wahabi’. DR. Zakir Naik pun pernah menjadi sasaran tuduhannya, bahkan sekelas Imam Majidil-Haram Abdurrahman as-Sudais.
Disisi lain, se-Gerombolan Orang (mereka tidak mau disebut kelompok) tersebut hobi menuding se-Kelompok Orang yang tidak sependapat dengannya itu bukanlah Ahlussunnah. Sedikit-dikit bid‘ah, bid‘ah, bid‘ah! Perkara furu‘ yang didalamnya boleh berbeda pendapat, namun baginya tidak. Segerombolannya-lah salafi, bukan yang lain.
Begitulah fakta yang bisa kita saksikan saat ini, baik offline maupun online. Sekelompok Orang dan Segerombolan Orang saling tuduh dan tuding. Tapi asyik dan uniknya, Keduanya sepakat mengkritik jamaah lain yang ikhlas berdakwah siyasah. Keduanya seakan-akan berkoalisi menjatuhkan dakwah siyasah tersebut. Coba perhatikan betapa Keduanya nyinyir pada Aksi Bela Islam. Sekelompok Orang menuduh Anti-Pemerintah, Anti-Kebhinekaan, Intoleran, dsb.. Segerombolan Orang menuding Neo-Khawarij, Neo-Muktazilah, Tidak Taat Ulil Amri, dsb.. Luar biasa, klop.
Keduanya mengira saat ini masih zaman ‘listrik masuk desa’, padahal sudah zaman ‘internet masuk desa’. Sehingga tuduhan dan tudingan Keduanya mudah terpatah-bantahkan. Betapa santun dan inteleknya jamaah ini dan itu dalam berdakwah siyasah. Ajakan diskusi Satu Meja pun ditawarkan pada salah satu maupun keduanya.
Di momen heroik Aksi Bela Islam, Keduanya seharusnya berpikir untuk bersatu merapatkan barisan Umat Islam !? Malangnya tidak. Keduanya malah menjaga jarak baru dengan ormas-ormas lain yang bersatu dalam Aksi Bela Islam. Sekelompok Orang telah memenuhi hidupnya dengan kebencian demi kebencian, meski harus membubarkan pengajian dan membebaskan kemaksiatan. Segerombolan Orang telah dipenuhi kedengkian demi kedengkian tatkala kalah dalam pasar pemikiran, tetap wajib taat pemerintah meski punggungnya dipukul dan hartanya dirampas oleh pemerintah.
Lantas, bagaimana sikap kita -khususnya orang awam? Allah taala mengingatkan kita dalam surah al-An'am ayat 112:
وكذلك جعلنا لكل نبي عدوا شياطين الانس والجن...
“Begitu juga telah Kami jadikan pada setiap Nabi itu musuh dari kalangan setan jenis manusia dan jin..”
“Begitu juga telah Kami jadikan pada setiap Nabi itu musuh dari kalangan setan jenis manusia dan jin..”
Oleh karena itu, apabila kita telah berkomitmen mengambil warisan risalah dakwah dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam maka seharusnya tidak galau jika juga mewarisi musuh-musuhnya. Justru galaulah ketika dalam dakwah ini tidak ada musuh, karena dipastikan dakwah tersebut ada yang salah bin keliru, segeralah mengkaji dan merenungi lagi langkah dakwahnya..
Dan, langkah dakwah kita mengkritik pemerintah --yang seringkali mengambil kebijakan yang tidak adil--, baik dalam Aksi Bela Islam maupun kegiatan lainnya, sejalan dengan kaidah al-Jarh wa at-Ta‘dil dalam Ilmu Hadis:
الجرح مقدّم على التعدیل
“Ketercelaan didahulukan atas Keterpujian”
“Ketercelaan didahulukan atas Keterpujian”
Maju Tak Gentar, Memperjuangkan yang Benar, saudaraku..
Sumber : https://www.facebook.com/alfan.ansharullah/posts/1872264339692496
Sumber : https://www.facebook.com/alfan.ansharullah/posts/1872264339692496
Comments
Post a Comment